Pembinaan Minat Baca

Konsep Perpustakaan Dalam Masyarakat

Pengertian Perpustakaan

Upaya untuk meningkatkan kecerdasan bangsa tidak harus selalu melalui jalur pendidikan formal saja, akan tetapi dapat juga melalui jalur pendidikan nonformal. Oleh karena itu, diperlukan adanya sarana komunikasi informasi ilmu pengetahuan untuk disampaikan kepada masyarakat yaitu perpustakaan.

Perpustakaan merupakan pusat terkumpulnya berbagai informasi dan ilmu pengetahuan baik yang berupa buku maupun bahan rekaman lainnya yang diorganisasikan untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pemakai perpustakaan. Pentingnya perpustakaan diorganisasikan dengan baik agar memudahkan pemakai dalam menemukan informasi yang dibutuhkannya, karena bahan-bahan yang ada diperpustakaan itu sebenarnya adalah himpunan ilmu pengetahuan yang diperoleh umat manusia dari masa ke masa.

Tujuan pokok perpustakaan adalah menyediakan, mengolah, memelihara, dan mendayagunakan koleksi bahan pustaka, menyediakan sarana pemanfaatannya dan melayani masyarakat pengguna yang membutuhkan informasi dan bahan bacaan. Untuk mendukung tugas pokok tersebut, perpustakaan melaksanakan fungsinya antara lain:
1. Fungsi pendidikan.
2. Fungsi informatif.
3. Fungsi penelitian.
4. Fungsi rekreatif.

Jenis Perpustakaan

Setiap perpustakaan mempunyai tujuan, organisasi, anggota, dan kegiatan berlainan. Oleh karena adanya perbedaan dalam tujuan, organisasi induk, anggota dan kegiatannya maka timbullah berbagai jenis perpustakaan. Jenis-jenis perpustakaan tersebut diantaranya:
1. Perpustakaan internasional.
2. Perpustakaan nasional.
3. Perpustakaan umum.
4. Perpustakaa khusus.
5. Perpustakaan sekolah.
6. Perpustakaan perhuruan tinggi.

Perpustakaan umum adalah lembaga layanan informasi dan bahan bacaan kepada masyarakat, oleh karena adanya masyarakat umum (yang dibedakan lapisan, golongan, lapangan pekerjaan, dan lain-lain) yang akan menggunkan dan menjadi sasaran layanan perpustakaan. Tujuan utamanya yaitu memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka ke arah kehidupan yang lebih baik, menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat, murah bagi masyarakat, serta membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.

Perpustakaan Khusus adalah perpustakaan yang diselenggarakan oleh instansi atau lembaga, baik pemerintah maupun swasta yang berfungsi sebagai pusat penelitian dan referensi serta sarana untuk memperlancar pelaksanaan tugas instansi atau lembaga yang bersangkutan. Perpustakaan khusus mempunyai tujuan untuk memberikan layanan informasi demi kepentingan dan kelancaran tugas lembaga induknya, karena perpustakaan khusus merupakan bagian dari suatu lembaga atau badan integral dari lembaga yang bersangkutan. Oleh karena itu, perpustakaan khusus mengkhususkan diri dalam mengumpulkan dan menyebarkan literatur bidang ilmu pengetahuan atau sekelompok bidang ilmu pengetahuan saja.

Perpustakaan sekolah merupakan perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah, oleh sekolah, dan untuk kepentingan proses belajar mengajar di sekolah. Dalam pelayanannya, perpustakaan sekolah harus mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan siswa, ataupun pendidik dan dapat menunjang kurikulum baik yang berhubungan dengan kegiatan intrakurikuler maupun yang berhubungan dengan kegiatan ekstrakurkuler.

Perpustakaan perguruan tinggi adalah suatu unti kerja yang merupakan bagian integral dari suatu lembaga perguruan tinggi induknya, bersama-sama dengan unit kerja bagian lainnya, tetapi dalam peranan yang berbeda. Bertugas membantu perguruan tinggi yang bersangkutan dalam melaksanakan program Tri Dharmanya.

Aspek-aspek Pembinaan Perpustakaan sebagi Suatu Sistem

Pembinaan Perpustakaan sebagai suatu Sistem

Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1989 telah menetapkan, bahwa Perpustakaan Nasional adalah lembaga nonpemerintah dan nondepartemen. Sejak peralihan status ini maka tugas untuk membentuk, membina dan mengembangkan sistem nasional perpustakaan di Indonesia menjadi tanggung jawab Perpustakaan Nasional RI.

Untuk menjamin kelangsungan dan pendayagunaan perpustakaan di dalam pengyelenggaraannya harus dapat tercipta suasana dan mekanisme kerja yang efekti dan efisien guna mencapai tujuan yang diharapkan. Manajemen perpustakaan kegiatannya meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan atau lebih dikenal dengan istilah POAC yaitu singkatan dari Planning, Organizing, Actuating, dan  Controlling. Dalam pelaksanaan manajemen perpustakaan, terdapat satu hal yang tidak kalah pentingnya yaitu administrasi.

Pelaksanaan administrasi perpustakaan merupakan aktivitas yang meliputi kepemimpinan, perencanaan dan perumusan kebijaksanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan suatu perpustakaan. Administrasi perpustakaan adalah fungsi-fungsi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang dioperasionalisasikan kepada kegiatan-kegiatan ruti perpustakaan. Program kerja adalah suatu schedule atau pentahapan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam mancapai sasaran organisasi untuk tujuan tertentu yang telah ditetapkan.

Sarana, prasaran, dan Anggaran perpustakaan

Kemampuan staf dalam memberikan layanan kepada pemakai perpustakaan merupakan usaha untuk mencapai tujuan dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan pendidikan masyarakat melalui sumber-sumber informasi yang tersedia. Oleh sebab itu, untuk menunjang kelancaran penyelenggaraan perpustakaan sesuai dengan tujuan dan fungsinya diperlukan staf yang mampu mengolah perpustakaan tersebut.

Ada empat unsur yang selalu ada di setiap perpustakaan, diantaranya:

  1. Gudang.
  2. Alat-alat bibliografi dan pembantu (katalog, indeks, staf pembimbing atau penasihat).
  3. Ruang untuk para pengunjung.
  4. Ruang staf.

Setiap perencanaan yang dilakukan harus mempertimbangkan keempat unsur tersebut, yaitu bagaimana letak dan hubungannya antara satu dengan yang lainnya.

Jumlah masyarakat yang akan dilayani oleh perpustakaan menentukan juga berapa besar ruang yang harus disediakan baginya, terutama dalam menyediakan ruang-ruang baca dan belajar. Berapa luas ruangan yang dapat disediakan untuk setiap pembaca bergantung sepenuhnya pada alat-alat dan perabot-perabot yang ditempatkan dalam suatu ruang, terutama ruang-ruang baca dan belajar.

Di Perpustakaan, sangat dieperlukan pencahayaan yang memadai. Sumber penerangan di perpustakaan, yaitu cahaya alam dan cahaya buatan. Selain itu, sangat diperlukan tersediannya udara yang cukup dalam perpustakaan. Untuk itu, ventilasi yang cukup diperlukan untuk pemeliharaan bahan-bahan dan kesehatan para petugas perpustakaan dan pembaca. Pemasangan ventilasi yang baik berarti pula pemberian udara yang segar. Selain itu, di perpustakaan perlu diciptakan ketenangan sehingga tidak mengganggu kegiatan pengunjung sehingga seluruh pikiran dan perhatiannya dapat dikonsentrasikan.

Sarana Perabot adalah sarana perpustakaan yang dipergunakan secara tidak langsung dalam proses pelayanan pemakai perpustakaan, tetapi merupakan kelengkapan yang harus ada untuk terselenggaranya perpustakaan. Sedangkan yang dimaksud dengan perlengkapan perpustakaan adalah barang-barang yang diperluka secara langsung dalam mengerjakan tugas kegiatan di perpustakaan. Dalam menyediakan barang dan perabot tersebut tentunya diperlukan pengaturan dalam pembelajaan yang biasa di sebut penganggaran.

Penganggaran adalah suatu perhitungan mengenai kebutuhan untuk waktu yang akan datang yang disusun dengan dasar yang pasti yang meliputi sebagian atau seluruh kegiatan dalam jangka waktu tertentu. Melihat gerak dinamika organisasi dan kegiatan operasional perpustakaan sangat tergantung kepada situasi dan kondisi sekitarnya.

Setiap perpustakaan akan berhadapan dengan masalah bagaimana menyusun anggaran perpustakaan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk itu dikenal adanya istilah PPBS dan BS dalam sistem anggaran. PPBS merupakan singkatan dari Planning Programming Budgeting System. Selain PPBS ada pula sistem-sistem anggaran lainnya, seperti lump-sum, object of expenditure, line item budgeting system (BS), dan performance budgeting system. Di antara kesemua sistem anggaran tersebut, sistem yang paling dikenal dan populer adalah line item budgeting system (LIBS) dan lump-sum budgeting system.

BS merupakan singkatan dari budgeting system yang berarti suatu penyusunan anggaran kebutuhan perpustakaan lengkap dengan perincian jumlah barang dan harganya untuk jangka waktu pendek, misalnya 1 sampai dengan 2 tahun. Oleh karena itu, sistem ini lebih dikenal dengan istilah LIBS. Pada hakikatnya LIBS ini merupakan apa yang diusulkan ke atas agar mendapatkan lump-sum yang lebih besar. Cara penyusunannya berdasarkan data dan visi pada masa lalu serta dipakai dasar untuk perhitungan pada masa yang akan datang.

Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan

Pembinaan Koleksi Perpustakaan

Pembinaan koleksi merupakan faktor yang memegang peranan penting untuk menunjang fungsi dan tugas perpustakaan sebagai pusat sumber informasi. Selain itu, untuk menarik minat pembaca agar tetap mau mengunjungi perpustakaan adalah dengan memberikan pelayanan yang baik terhadap pengunjung oleh para pelaksana perpustakaan.

Beberapa faktor yang harus diperhitungkan dalam pembinaan bahan pustaka agar dapat menunjang tercapainya peningkatan pengetahuan masyarakat melalui pendayagunaan sumber-sumber informasi dan untuk meningkatkan pelayanan perpustakaan tersebut, antara lain:

  1. Keadaan daerah dan masyarakat di mana perpustakaan berada (ekologi setempat).
  2. Sistem pendidikan nasional dan objektivitas sekolah setempat, karena perpustakaan harus searah dengannya.
  3. Sistem perpustakaan nasional dan apakah ia merupakan salah satu dari subsistem perpustakaan.

Ketiga faktor ini akan memberikan arah dan warna koleksi suatu perpustakaan yang bersangkutan. Keragaman koleksinya tidak hanya terbatas pada jenis dan isinya saja, tapi juga dalam penjenjangannya dari yang bersifat elementer, lebih maju, dan paling maju.

Secara garis besarnya pemrosesan bahan-bahan pustaka meliputi:

  1. Pendaftaran bahan-bahan (administratif).
  2. Pengklasifikasian dan pembuatan katalog (teknis(.

Setelah kedua segi itu selesai dikerjakan, barulah bahan-bahan tersebut siap disusun pada rak-rak atau kabinet-kabinetnya. Hal ini berarti bahan-bahan tersebut telah siap untuk dipinjamkan dan disebarkan. Prosees-proses tersebut meliputi:

  1. Pemeriksaan bahan pustaka.
  2. Inventarisasi atau pendaftaran.
  3. Klasifikasi.
  4. Katalogisasi.

Pelayanan Perpustakaan

Pelayanan adalah proses atau kegiatan yang berkaitan dengan pendayagunaa koleksi dan fasilitas yang tersedia di perpustakaan. Dengan kata lain, pelayanan merupakan proses berkesinambungan, suatu kegiatan yang terus menerus dalam upaya mempertemukan koleksi dan fasilitas perpustakaan di satu pihak dengan masyarakat pemakai di pihak lain.

Pelayanan Informasi adalah pelayanan yang bersifat memberi tahu para pemakai perpustakaan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan perpustakaan. Pelayanan tersebut meliputi tata cara penggunaan perpustakaan, alur kegiatan perpustakaan, dan pemberian informasi lainnya seperti buku baru, rencana promosi perpustakaan, pameran buku, dan sebagainya.

Pelayanan referensi adalah pelayanan pemberian bantuan secara langsung dan bersifat lebih personal oleh perpustakaan kepada masyarakat yang dilayani yang sedang mencari atau membutuhkan keterangan-keterangan tertentu.

Memasyarakatkan Perpustakaan

Pemasyarakatan atau promosi perpustakaan adalah usaha-usaha atau tindakan-tindakan yang dilakukan untuk memberikan dorongan, penggalakan atau untuk bantuan memajukan perpustakaan. Selain itu, dalam usaha pengembangan perpustakaan perlu juga dilakukan kerja sama antarperpustakaan.

Salah satu bentuk kerja sama antarperpustakaan adalah dengan melaksanakan jaringan kerja sama antarperpustakaan. Konsep jaringan sebenarnya merupakan perluasan konsep kerja sama perpustakaan. Kalau pada konsep kerja sama perpustakaan melibatkan dua perpustakaan atau lebih maka pada konsep jaringan meliputi dua perpustakaan atau lebih dan atau organisasi lain yang berkecimpung dalam pola bersama pertukaran informasi melalui komunikasi untuk jeperluan fungsional. Kerja sama perpustakaan diperlukan karena tidak satupun perpustakaan dapat berdiri sendiri. Dalam arti, koleksinya mampu memenuhi kebutuhan informasi pemakainya.

Dalam usaha meningkatkan minat baca perlu kita ketahui terlebih dahulu, bahwa tingkat kemampuan membaca sangat bervariasi dan sangat bergantung pada minat dan kesanggupan masyarakat pemakai perpustakaan.

Salah satu kegiatan yang sebaiknya dilakukan dalam kegiatan perpustakaan adalah bimbingan membaca. Fungsi utama bimbingan membaca adalah menolong pemakai untuk menafsirkan apa yang dibacanya dan dibimbing dalam mengekspresikan reaksi mereka terhadap apa yang dibacanya dan diberi kebebasan untuk memilih pengertian dari ekspresinya sendiri. Dasar dari bimbingan membaca adalah pengetahuan pemakai secara individual, minat, kebutuhan, kemampuan, dan pengetahuannya terhadap materi bacaan itu sendiri.

Pembinaan Minat Baca

Masyarakat sebagai Pemakai Perpustakaan

Pemakai perpustakaan adalah masyarakat umum. Ikatan mereka dengan perpustakaan semata-mata karena buku atau bahan bacaan. Oleh karena itu, tidak mudah bagi para petugas perpustakaan untuk membantu atau mengajak mereka agar bisa membaca. Setiap pemakai perpustakaan yang menggunakan bahan perpustakaan tertentu mempunyai kepentingan yang berbeda-beda.

Perpustakaan yang berada ditengah-tengah masyarakat mempunyai tujuan dan fungsi yang bermacam-macam, diantaranya adalah sebagai sarana pendidikan dan bahkan sering disebut sebagai “Universitas Masyarakat”. Belajar melalui peperpustakaan merupakan suatu bentuk belajar melalui pengalaman. Belajar melalui pengalaman sering timbul karena adanya ketidakpuasan akan informasi yang diperoleh. Untuk mencapai suatu tingkat kepuasan akan pemahaman suatu informasi dibutuhkan suatu cara belajar yang kreatif agar tercapai suatu cara belajar yang efektif.

Produk belajar yang kreatif pada akhirnya adalah suatu pengembangan pembawaan dan penggunaan akal budi secara penuh dari masyarakat yang lambat laun melalui membaca menyadari bahwa salah satu potensi yang dimilikinya harus dikembangkan untuk mencapai suatu hasil belajar. Sejalan dengan kedudukan perpustakaan itu sendiri maka terdapat implikasi lebih jauh bahwa perpustakaan sebagai tempat untuk mengembangkan proses belajar melalui membaca yang bermanfaat bagi masyarakat.

Fungsi perpustakaan menjadi berkembang sebagi tempat pemupuk minat baca. Fungsi perpustakaan bagi masyarakat adalah untuk memperdalam dan menelusuri berbagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kebutuhan hidupnya. Penguasaan konsep dasar yang baik memudahkan masyarakat untuk mengaplikasikan ilmunya pada situasi dan kondisi yang lebih berkembang yang akhirnya masyarakat akan memiliki inisiatif, daya kreatif, sikap krisis, rasional, dan objektif. Fungsi perpustakaan bagi masyarakat lainnya adalah untuk meningkatkan apresiasi seni dan sastra serta seni budaya lainnya melalui cara membaca di perpustakaan.

Kemampuan membaca merupakan hal yang mutalk dimili oleh masyarakat yang sedang belajar. Salah satu tujuan belajar adalah mengakumulasi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan pada umumnya dihimpun, dicetak, dan dilestarikan dalam media cetak. Media cetak berfungsi sebagai individu kalau individu tersebut dapat membaca.

Peran Perpustakaan dalam Membina Minat Baca

Secara umum minat baca dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari ataupun mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu. Minat juga diartikan sebagai sikap positif terhadap aspek-aspek lingkungan. Ada juga yang mengartikan minat sebagi kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menikmati suatu aktivitas desertai dengan rasa senang. Minat mengandung arti keinginan memperhatikan atau melakukan sesuatu. Minat juga berarti sesuatu yang disenangi tanpa terikat atau terpaksa. Membaca adalah proses untuk memperoleh pengertian dari kombinasi beberapa huruf dan kata.

Membaca merupakan kemampuan dan keterampilan untuk membuat suatu penafsiran terhadap bahan yang dibaca. Yang dimaksud dengan kepandaian membaca tidak hanya mengiterpretasikan huruf-huruf, gambar-gambar, dan angka-angka saja, akan tetapi yang lebih luas daripada itu ialah kemampuan seseorang untuk dapat memahami makna dari suatu yang dibacanya. Karena itulah membaca merupakan kegiatan intelektual yang dapat mendatangkan pandangan, sikap, dan tindakan yang positif. Fungsi dari membaca itu sendiri adalah dapat membuaka cakrawala pengetahuan menjadi lebih luas, pengetahuan kita menjadi bertambah banyak sehingga menjadi manusia yang tidak picik.

Aspek minat membaca meliputi, kesenangan membaca, kesadaran akan manfaat membaca, frekuensi membaca, dan jumlah buku bacaan yang pernah dibaca. Menat baca bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja pada diri seseorang.Akan tetapi minat baca harus dipupuk dan dibina semenjak dini.

Pembinaan minat baca merupakan suatu jenis pelayanan perpustakaan dalam membantu dan memberikan guidance kepada para pengunjung atau masyarakat yang dilayani oleh perpustakaan. Pembinaan minat baca ini bertujuan untuk mengembangkan minat dan selera dalam membaca, terampil dalam menyeleksi, dan menggunakan buku, mampu mengevaluasi materi bacaan dan memiliki kebiasaan efektif dalam membaca informasi, serta memiliki kesenangan membaca.

Pembinaan membaca meliputi empat macam kegiatan, yaitu:

  1. Merencanakan program penumbuhan dam pengembangan minat baca.
  2. Mengatur pelaksanaan program.
  3. Menengendalikan pelaksanaan program.
  4. Menilai pelaksanaan program penumbuhan dan pengembangan minat baca, baik dilingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Pembinaan minat baca merupakan proses yang berkelanjutan untuk membantu individu agar minat bacanya tumbuh dan berkembang. Dengan demikian, tujuan umum pembinaan minat baca adalah mengembangkan minat baca masyarakat dan beberapa tujuan khusus yang dalam pencapaianya perlu kerjasama dengan pihak yang terkait.

Pada dasarnya pembinaan minat baca mempunyai tiga fungsi utama, yaitu:

  1. Sebagai sumber kegiatan.
  2. Sebagai Pedoman pelaksanaan kegiatan.
  3. Sebagai tolak  ukur atau parameter keberhasilan upaya menumbuhkembangkan minat baca.

Faktor-fakto yang Mempengaruhi Minat Baca

Motivasi yang Mempengaruhi Minat Baca

Manusia akan terdorong untuk melakukan sesuatu bila dirasakan kebutuhan yang ada pada dirinya belum terpenuhi (menurut pemenuhan). Motivasi itu merupakan daya yang dapat merangsang tau mendorong manusia untuk mengadakan kegiatan dalam memenuhi kebutuhan guna mencapai tujuan yang diharapkan. Motif dan motivasi berkaitan erat dengan penghayata suatu kebutuhan berperilaku tertentu untuk mencapai tujuan. Motif menghasilkan mobilisasi energi (semangat) dan menguatkan perilaku seseorang.

Setidak-tidaknya ada dua indikator dalam motivasi berprestasi (tinggi), yaitu kemampuan dan usaha. Namun, bila dibandingkan dengan atribusi intrinsik dari Wainer, ada tiga indikator motivasi berprestasi tinggi, yaitu kemampuan, usaha, dan suasana hati (kesehatan). Jadi, hakikat motivasi berprestasi adalah rangsangan-rangsangan atau daya dorong yang ada dalam diri individu yang mendasai individu untuk belajar dan berupaya mencapai prestasi yang diharapkan.

Dengan demikian, apabila seseorang mengadakan suatu kegiatan itu berkat adanya motivasi baik yang timbul dalam dirinya maupun pengaruh dri luar dirinya, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

Dalam pembinaan minat baca, fungsi motivasi lebih menekankan kepada pemberian dorongan atau motivasi yang sifatnya datang dari lingkungan luar. Dalam hal ini perpustakaan harus menstimulasi dan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk belajar. Oleh karena itu, motif yang ada pada diri seseorang perlu dibina sedini mungkin, dalam hal ini pustakawan harus dapat menstimulasi agar motif untuk membaca yang ada pada diri seseorang dapat bekerja dengan efekti untuk mencapai suatu tujuan.

Motivas internal dan faktor internal yang memepengaruhi pembianaan minat baca antara lain kurangnya tenaga pengelola perpustakaan, kurangnya dana pembinaan minat baca, terbatasnya bahan pustaka, kurang bervariasinya jenis layanan perpustakaan, terbatasnya perabot dan peralatan perpustakaan, serta kurang strategisnya lokasi perpustakaan.

Motivasi eksternal dan faktor-faktor eksternal juga mempengaruhi pembinaan minat baca. Yang termasuk faktor-faktor eksternal antara lain kurang terbinanya jaringan kerjasama pembinaan minat baca antarperpustakaan, belum banyaknya sektor-sektor swasta yang menunjang pembinaan minat baca, dan belum semua penulis berpartisipasi dalam pembinaan minat baca.

Faktor sosiologi pembaca turut pula memperlancar proses membaca seseorang. Misalnya faktor sarana membaca.

Tahapan Membaca dan Pembinaan Pemakai Perpustakaan

Pengalaman menunjukkan adanya keragaman pengertian tentang membaca sehingga kekurangtepatan pengertian ini akan membawa dampak terhadap kebiasaan membaca. Salah satu rumusan pengertian membaca adalah proses penginterprestasian simbol dan pemberian makna terhadapnya. Dalam rumusan ini terdapat tiga unsur yang berkaitan, yaitu simbol, interprestasi, dan makna. Simbol merupakan bahan pokok suatu bacaan yang pada umumunya diasosiasikan dengan huruf, kata, kalimat, dan tanda baca. Keakraban pembaca terhadap simbol-simbol bacaan ini akan mempengaruhi proses interprestasi terhadapnya. Sudah barang tentu sajian bahan atau simbol ini terkait dalam bahasa sajian yang disebut bahan tulisan. Yang harus dipahami betul adalam kemampuan dalam menemukan konsep berpikir pengarang di balik uraian yang tertulis. Apabila hal ini telah ditemukan dan disusun dengan kalimat sendiri maka makna suatu tulisan akan mudah dirumuskan adan lama tersimpan dalam daya ingatan.

Untuk dapat mengetahui tingkat kemampuan dalam membaca, kiranya perlu diketahui tahapan-tahapn membaca. Dari sini dapat diketahui tingkat seseorang dalam cara membacanya serta tingkat pemahaman literatur atau bacaannya. Berkaitan dengan tahap perkembangan membaca dan hubungannya dengan jenis bahan bacaan, terdapat tahapan membaca, antara lain: pramembaca, pengenalan awal membaca atau decoding, konfirmasi dan kelancaran, serta membaca untuk mempelajari hal-hal baru. Selain itu, teknik membaca perlu dikuasai diantaranya teknik pendekatan yang didasarkan kepada konteks membaca.

Kemudian yang harus dipahami juga adalah faktor-faktor yang menghambat dalam pembinaan minat baca, diantaranya timbul karena belum terbiasa membaca. Kemampuan membaca adalah kemampuan yang merupakan hasil latihan dari pembiasaan sehingga diperoleh tahap-tahap yang tinggi keefektifannya. Kebiasaan membaca sehari-hari adalah penentu dalam latihan.

Pembinaan Minat Baca di Indonesia

Pembinaan Minat Baca melalui Lingkungan Keluarga

Wajah masa depan sebuah negeri dapat dilihat dari bagaimana kualitas anak-anak masa kini. Secara umum ada tiga lingkungan yang sangat mempengaruhi kualitas mental dan spiritual anak, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial budaya yang berhubungan dengan nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku di masyarakat, termasuk di dalamnya pengaruh televisi, buku, dan media massa.

Memperkenalkan bacaan pada anak sejak kecil dapat meningkatkan prestasi anak di sekolah. Karena itu, pentingnya orang tua mengapresiasikan budaya baca pada anak dengan memberi contoh. Agar anak tidak bosan membaca, sebaiknya anak-anak diberi buku-buku lucun dan berwarna-warni, sesuai bacaan anak usianya. Memperkenalkan budaya membaca pada usia sedini mungkin akan memberikan hasil yang lebih optimal daripada menunggu sampai anak sudah lebih besar dan lebih menyukai budaya menonton TV. Selain orang tua, meida massa dan pemerintah juga memegang peranan penting dalam menumbuhkan kebiasaan membaca sejak kecil. Pertumbuhan minat baca bisa dimulai sejak lahir.

Berbicara tentang gemar membaca berarti kita dihadapkan pada masalah bagaimana menumbuhkan kegemaran membaca kemudian meningkatkan kegemaran terutama di lingkunagn sekitar kita sendiri.

Pembinaan minat baca di lingkungan keluarga meliputi:

  1. Pemberian contoh atau keteladanan membaca dari orang tua di rumah.
  2. Penyediaan bahan bacaan di rumah.
  3. Pemberian hadiah ulang tahun anak berupa buku atau bahan bacaan lainnya.
  4. Orang tua mengajak anak-anaknya pergi meminjam buku diperpustakaan.
  5. Orang tua mengajak anak-anaknya pergi menyewa buku di penyewaan buku.
  6. Orang tua mengajak anak-anaknya membaca buku di perpustakaan desa.
  7. Orang tua mengajak anak-anaknya membaca buku di perpustakaan tempat ibadah (masjid, gereja, vihara, dan pura).
  8. Orang tua mengajak anak-anaknya ke toko buku.
  9. Orang tua membaca buku untuk anaknya sebelum tidur.
  10. Orang tua menyelenggarakan perpustakaan keluarga.

Pembianaan Minat Baca Melalui Perpustakaan Umum dan Sokolah

Selain sumber yang didapatkan diluar sekolah, sumber utama dalam belajar di sekolah adalah perpustakaan, karena perpustakaan sekolah merupakan sumber dari segala kegiatan belajar dan mengajar. Perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah berguna untuk menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal tingkat sekolah, baik sekolah dasar maupun sekolah lanjutan.Perpustakaan memiliki kedudukan yang utama di dalam setiap program pendidikan sebagai the heart of the educational program. Perpustakaan sekolah harus menjadi pusat kegiatan yang berlangsung di sekolah. Perpustakaan sekolah diadakan bukan lagi hanya sekedar melayani selera para siswa untuk membaca buku-buku, tetapi perpustakaan itu sendiri harus dapat memabantu para siswa mengasah otak, memperluas dan memperdalam pengetahuan, melahirkan kecekatan, serta membantu siswa dalam aktivitas-aktivitas yang kurikuler dan ekstra kurikuler.

Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan mempunyai tugas dalam mengatur fasilitas pendidikan seperti penyediaan sarana perpustakaan. Dalam penyelenggaraan perpustakaan sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab terhadap penyediaan dana, pemenuhan fasilitas perpustakaan, kerja sama, evaluasi terhadap efisiensi dan efektivitas pelayanan perpustakaan.

Guru adalah orang yang bergaul setiap hari secara langsung dengan siswa di kelas melalui proses belajar mengajar. Pengayaan proses belajar mengajar di kelas hanya akan terjadi apabila guru pandai menggunakan peluang dan kesempatan agar siswa senantiasa aktif mengikuti pelajaran dengan menyertakan berbagai sumber belajar yang tersedia dan mungkin untuk didayagunakan.

Staf perpustakaan adalah orang-orang yang secara fungsional mempunyai tanggung jawab baik secara langsung atau tidak langsung bagi pelayanan perpustakaan. Bagaimanapun lengkapnya koleksi dan fasilitas perpustakaan, kalau tidak ditangani oleh personal yang memadai maka kekayaan yang tersedia di perpustakaan akan kurang mempunyai makna dan arti.

Pelayanan merupakan kunci sukses dalam penyelenggaraan perpustakaan. Oleh karena itu, merupakan tanggung jawab profesional setiap petugas perpustakaan untuk senantiasa memiliki motivasi yang kuat, wawasan yang luas, dan senantiasa berupaya secara aktif agar dapat melaksanakan pelayanan sebaik-baiknya. Selain itu, pustakawan harus mampu memberikan pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan para pemakai, dimana siswa sebagai pihak yang paling berkepentingan untuk dilayani perlu mendapatkan pelayanan yang memadai sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Perpustakaan umum, baik yang berupa perpustakaan provinsi, perpustakaan kabupaten/kota, perputakaan desa, maupun perpustakaan keliling disediakan sebagai sarana public service yang dapat mendorong kegemaran dan kebiasaan membaca guna menambah pengetahuan masyarakat untuk memajukan kesejahteraan pribadi, memajukan pendidikan seumur hidup, ekonomi serta sosial. Namun, yang menjadi pertanyaan mampukah perpustakaan-perpustakaan umum kita yang ada sekarang ini memberikan pelayanan sebaik-baiknya dalam hal bahan bacaan sesuai dengan kebutuhan pemakai yang beraneka ragam? Sudahkah semua masyarakat dari kota hingga ke pedesaan dapat menikmati jasa perpustakaa secara wajar?

Disinilah peran pustakawan, keadaan perpustakaannya yang serba kekurangan sudah tentu selalu dituntunt untuk bersikap aktif, kreatif, progresif dalam menjalankan misi perpustakaan secara nasional bahkan internasional.

Jikalau masyarakat telah tertarik untuk menggunakan jasa-jasa perpustakaan maka pustakawan sebagai pemberi jasa harus berusaha memberikan pelayanan sebaik-baiknya dengan sikap ramah dan sopan santun agar menimbulkan kesan bahwa perpustakaan adalah suatu tempat pemberi jasa yang bersifat edukatif. Kebutuhan pemakai akan bahan-bahan pustaka harus mendapat perhatian sesuai dengan keinginan pemakai sehingga menimbulkan kepercayaan bahwa pepustakaan betul-betul merupakan sumber ilmu dan sumber informasi.

3 thoughts on “Pembinaan Minat Baca

  1. Ping-balik: SEKILAS INFO | Nindhy Caesa Wahyu Hardiyan

  2. artikel yang bagus dan bermanfaat. Untuk kemajuan Indonesia sangat perlu untuk mendidik generasi muda untuk lebih sering berkunjung ke perpustakaan, mempernbanyak membaca dan belajar. Layanan perpustakaan yang bbaik dan memuaskan akan menarik para pengunjung.
    salam hangat dari kami..semoga indonesia bisa lebih bangkit dan berkembang lewat anak2 muda yang gemar membaca.
    untuk kebutuhan perpustakaan online atau aplikasi perpustakaan bisa kunjungi http://gudangskill.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s